Ngalor-ngidul eh ceklak-ceklik blog walking, ketemu tulisan Trainer yang ini, jadi ingat sebuah kisah masa lalu, ketika masih jomblo.
Waktu itu ada co’ yang rada-rada borju PDKT padaku, kencan pertama ditutup dengan dinner di tizi’s (waktu itu kampung daun belum lahir). Tempatnya nyaman, agak romantis dengan penataan meja yang apik Gak tanggung-tanggung beliau advise menu european. Sapa juga yang nolak. Sambil nunggu main dish, kami ngobrol-ngobrol yang bikinhati dagdigdug dotcom, sesekali diselingi dengan mencubit roti dan mengolesnya dengan butter.
Tibalah saatnya hidangan utama, meskipun hati ini masih berbunga-bunga, tapi kok cara beliau bersantap justru kill my appetite, gemerincing yang mencapai 100 dB, caranya menggenggam pisau-garpu, ditutup dengan cara memanggil waiter dengan mendentingkan gelas seperti hendak memberi announcement pada suatu sitdown dinner. Demikianlah kesimpulan first impression pada kencan pertama tersebut.
Manner tidak diajarkan secara formal (meskipun sekarang sudah banyak kursus kepribadian, table manner dan manner-manner lainnya), tapi dilatih, dibiasakan dan diasah di rumah. Bukannya aku berteguh pada bebet-bibit-bobot, tapi menurutku manner mencerminkan bobot (kualitas) dan bibit (keluarga).
Saat ini kita sering melihat pengabaian terhadap manner –baik itu berupa cara mengemukakan pendapat, cara memberikan komentar, cara berkilah, cara berkomunitas, bersosialisasi– apakah ini produk generasi hippies pemberontak norma, ataukah memang akibat bibit-nya.
Kata temanku, gejala individual adalah gejala psikologi, tapi kalau sudah massal, maka gejala sosial dan kalau gejala massal ini diterima oleh masyarakat, maka ini adalah gejala kultur.
Apakah ini yang dimaksud dengan pergeseran kultur?
2 comments ↓
HHmmm …
Betul sekali …
Bagaimanapun keren, tinggi jabatan dan beradanya seseorang …
Jika “manner”nya jongkok … maaf … jadi njegleg semua …
(pertanyaannya … bagaimanakah nasib si co itu ??)
Salam saya
Gw bilang “manner” yang lu maksud tergantung situasi dan kondisi
Bener si, gayanya si cowok itu ga pas sama menu eropa-nya. Tapi pas-pas aja buat nongkrong di menu lesehan, model kampung daun. Jadi kesalahannya bukan karena dia ga ber-manner. Tapi karena pake “manner lesehan” untuk acara dinner eropa.
Gw rasa yang seperti itu forgiveable.
Justru yang salah kalo kita memandang kesopanan orang berdasarkan “nilai” yang kita anut. Kan tidak semua orang mempunyai “nilai” yang sama dengan kita.
Leave a Comment