July 13th, 2008 — gumun
Siang ini keluar dari halaman salah satu rumahsakit dekat perbatasan Jakarta-Tangerang, setelah membayar biaya parkir, bersamaan dengan keluarnya resi pembayaran parkir, terdengarlah suara “Terimakasih”. Jelas yang terdengar adalah suara mesin.
Mungkin saya dapat memaklumi jika mesin pembayar tersebut adalah mesin otomatis tanpa penjaga, namun karena ini loket pembayaran dengan operator yang tidak switchable ke auto mode, alangkah sopannya jika ucapan terimakasih tersebut diucapkan oleh sang penjaga, apalagi jika disertai dengan senyum. Tak perlu teknologi tinggi, namun terasa lebih manusiawi.
Berbagi
July 4th, 2008 — etika, gumun
Ngalor-ngidul eh ceklak-ceklik blog walking, ketemu tulisan Trainer yang ini, jadi ingat sebuah kisah masa lalu, ketika masih jomblo.
Waktu itu ada co’ yang rada-rada borju PDKT padaku, kencan pertama ditutup dengan dinner di tizi’s (waktu itu kampung daun belum lahir). Tempatnya nyaman, agak romantis dengan penataan meja yang apik Gak tanggung-tanggung beliau advise menu european. Sapa juga yang nolak. Sambil nunggu main dish, kami ngobrol-ngobrol yang bikinhati dagdigdug dotcom, sesekali diselingi dengan mencubit roti dan mengolesnya dengan butter.
Tibalah saatnya hidangan utama, meskipun hati ini masih berbunga-bunga, tapi kok cara beliau bersantap justru kill my appetite, gemerincing yang mencapai 100 dB, caranya menggenggam pisau-garpu, ditutup dengan cara memanggil waiter dengan mendentingkan gelas seperti hendak memberi announcement pada suatu sitdown dinner. Demikianlah kesimpulan first impression pada kencan pertama tersebut.
Manner tidak diajarkan secara formal (meskipun sekarang sudah banyak kursus kepribadian, table manner dan manner-manner lainnya), tapi dilatih, dibiasakan dan diasah di rumah. Bukannya aku berteguh pada bebet-bibit-bobot, tapi menurutku manner mencerminkan bobot (kualitas) dan bibit (keluarga).
Saat ini kita sering melihat pengabaian terhadap manner –baik itu berupa cara mengemukakan pendapat, cara memberikan komentar, cara berkilah, cara berkomunitas, bersosialisasi– apakah ini produk generasi hippies pemberontak norma, ataukah memang akibat bibit-nya.
Kata temanku, gejala individual adalah gejala psikologi, tapi kalau sudah massal, maka gejala sosial dan kalau gejala massal ini diterima oleh masyarakat, maka ini adalah gejala kultur.
Apakah ini yang dimaksud dengan pergeseran kultur?
Berbagi
June 29th, 2008 — etika
Waktu aku kecil, ibuku selalu berbicara secara boso kepadaku. Sebenarnya, cara berbahasa ini digunakan hanya oleh seseorang dari hirarki yang rendah kepada seseorang dari hirarki yang lebih tinggi, misalnya anak kepada orang yang lebih tua, kepada atasan, kepada orang yang dihormati. Bukan berarti bahwa ibu mempunyai hirarki yang lebih rendah daripada aku, tetapi hal ini dilakukan agar inilah agar bahasa ini menjadi satu-satunya bahasa komunikasiku.
Pada keluarga tertentu, bahasa ini menjadi bahasa resmi dalam keluarga. Di dalam keluargaku pun nyaris demikian, kecuali Ayah yang berhak berbahasa ngoko sepada siapapun. Ngoko hanya digunakan oleh seseorang yang dihormati, kepada orang yang mempunyai hirarki lebih rendah. Oleh sebab itu ngoko dipelajari dalam interaksi pergaulan bukan di dalam keluarga.
Bahasa bukanlah satu-satunya pendidikan yang kudapat, sejalan dengan itu tata cara bersikap juga dilatih dengan cermat. Tidak setiap aspirasi dapat segera diekspresikan, ada prosedur tak tertulis yang harus ditaati. Dan karena prosedur tak tertulis ini berlaku umum, maka hal ini diakui sebagai ETIKA. Ketika etika dilanggar, konsekuensinya adalah ‘dikandani’ (dinasehati). Nasehat ini tidak hanya datang dari ibu yang berfungsi sebagai penyelia, tetapi juga oleh setiap anggota keluarga bahkan oleh anggota extended family: paman2, bibi2, yang masing-masing menyampaikan secara terpisah dan pada kesempatan yang tidak bersamaan. Alhasil bagiku sang ter-kandani, kesalahan yang hanya sekali itu berbuah “nasehat” yang berulang dan berkepanjangan. Efeknya, hal itu akan tertanam kuat sehingga kesalahan serupa tidak akan terulang.
Berbagi
June 14th, 2008 — Uncategorized
Setelah hampir setahun terbungkam, akhirnya cucuku yang kedua berhasil mengucapkan kata yang pertama “mammmmmaaaa….”
Semua gembira. Akupun gembira, namun harap-harap cemas, apakah yang selanjutnya akan dikatakannya. Baikkah? Burukkah? atau diantaranya? atau keduanya? Yang aku percaya adalah pada saat yang bersamaan ada ratusan anak kecil lain yang juga baru mulai berucap dan sedang belajar berbicara. Akankah kelak mereka dapat menyusun dan memilih kata-kata yang digunakannya? Akankah kelak ucapan-ucapannya menjadi harimau, kancil, ular, buaya, atau mungkin boomerang bagi dirinya, atau bagi orang lain?
Saat ini semua terpaku pada kegembiraan: Si Kecil Sudah Mulai Berucap!
Berbagi